Reseller : Rolly Trisno - Hp : 081288110016

Malaysia Dikeroyok Blogger, Pelajaran Penting CyberPR


Jika Anda seorang petinggi negara, figur publik, CEO atau manajer Public Relation sebuah perusahaan, perhatikan baik-baik kasus menarik berikut ini. Gara-gara respon pemerintah yang salah terhadap keluhan pribadi (ya, pribadi) seorang seorang presenter acara SCTV yang diundang pemerintah Malaysia untuk meliput, negara jiran ini menoreh noda hitam dalam dunia kehumasan. Bukan citra positif yang diunduh, alih-alih malah dapat ganjaran viral marketing negatif melalui blog dan media online.

Ini runtutan kisahnya yang saya pantau dari sekian banyak tulisan baik di blog maupun media, yang terjadi sejak akhir Januari lalu dan meledak Maret ini:

  • Sebanyak 170 jurnalis di seluruh dunia, termasuk Indonesia, diundang ke Malaysia dalam rangka pembukaan Festival Bunga 2007, yang merupakan bagian dari acara Visit Malaysia 2007. Harapannya, tentu saja media yang diundang menulis yang baik-baik mengenai Malaysia agar kunjungan wisata ke negeri itu meningkat.
  • Salah satu yang berangkat ke sana Nila Tanzil, mewakili SCTV. Ia adalah host dari acara Melancong Yuk.
  • Wanita cantik ini kecewa karena layanan Malaysia dianggap buruk. Ia tidak bisa memotret dan merekam objek yang ia kehendaki. Minta izin merekam pun dipingpong ke sana kemari.
  • Sepulang dari Malaysia, ia menuliskan kekesalan pribadinya di blog. Isinya: Ia mengakui keindahan Malaysia, namun sekaligus mengeluhkan pemerintah Malaysia ndak becus mengelola acara itu.
  • Tulisan itu kemudian diposting juga di blog Maverick, tempat ia bekerja sebagai konsultan humas.
  • Karena blog Maverick yang berbahasa Inggris itu cukup terkenal di kalangan media, maka menyebarlah ke blogger Malaysia, dan kemudian entah bagaimana caranya tulisan negatif terbaca oleh Menteri Pariwisata Malaysia Tunku Adnan .
  • Tersinggung dengan keluhan itu, sang Menteri pun mengeluarkan statemen: semua blogger itu penipu, dan 80 persen di antaranya adalah perempuan yang tak bekerja alias penganggur.
  • Celakanya statemen negatif (mencela, menghina, merendahkan para blogger dan wanita) itu dimuat di media cetak (berbahasa Cina).
  • Hasilnya bisa diduga: ucapan gebyah uyah sang menteri justru menambah musuh baru, memperkuat citra negatif Malaysia, bahkan memicu isu lain (bahwa rakyat Malaysia tidak punya kebebasan bicara sebagai mana halnya di Indonesia), sekaligus mempererat tali komunikasi para blogger. Entah energi apa yang menggerakkannya, sekian banyak blogger membela Nila dengan tulisan khusus, termasuk diantaranya: Pecas Ndahe. Bahkan Detikcom pun terpancing menulis tiga liputan mengenai hal ini. Sementara blogger Malaysia mengeluhkan ucapan pemimpinnya yang kurang pantas. Lihat blog Elizabeth, Ranting, atau Michael Yip. Yang lainnya, simak saja di blog Nila sendiri.

Tuan-tuan petinggi negara, figur publik, CEO sebuah perusahaan, atau manajer Public Relation, sementara lupakan dulu apakah etis atau tidak Nila yang dipercaya SCTV sebagai profesional menulis hal pribadi semacam itu di blog. Yang jelas tuan-tuan semua sedang menghadapi era baru kehumasan. Saat ini sedang merebak media-media baru yang dapat dimiliki orang setiap orang. Media baru itu, antara lain bernama BLOG. Inilah tempat paling asyik mengutarakan segala macam hal tanpa harus dibatasi aturan. Jika tuan-tuan dulu dengan ilmu Media Relation mampu mengelola hubungan baik dengan media tradisional seperti TV, cetak, radio, bahkan juga dengan media online, kini tuan-tuan menghadapi mahluk baru bernama Consumer Generated Media. Blog salah satunya.

Yakinlah, jika tuan-tuan mengelola media baru ini dengan cara kuno seperti yang dilakukan tuan dari negeri seberang, maka tuan akan menuai badai seperti yang dirasakan tuan Adnan.

Apa yang saya tulis September tahun lalu kini dirasakan oleh Malaysia. Simak lagi tulisan saya mengenai Sadarlah Wahai Para Pemasar dan Pehumas, Kini Anda Menghadapi Konsumen dan Publik Langsung.

Tuan-tuan, selamat datang di dunia digital.

sumber: virtual.co.id


Home | Registrasi | Testimonial | Artikel | Login

Apa tanggapan anda?